Ospek telah tiba, Ospek telah tiba, hore (?!)..hore..hore(?!?!)
Well, intu adalah potongan lagu Libur Telah Tiba punya salah satu penyanyi cilik kita dulu, yang entah mengapa tiba-tiba saya lupa namanya. Ospek, siapa yang tidak mengenal nama ini. Apalagi mahasiswa tingkat satu di seluruh Indonesia. Saya tidak tahu apakah ada universitas yang himpunan mahasiswanya tidak mengadakan ini.
Judul ini sebenarnya sebuah satir terhadap ospek ini *satir mode on*. Coba kita jujur, terutama yang sudah tua-tua di universitas (yang nyaris jadi dedengkot kampus juga termasuk). Apakah ospek adalah pengalaman yang mnearik bagi kita dulu? Pasti jawabannya tidak (meski mungkin bakalan ada yang mengatakan ya). Tapi pengalaman horor ini seiring waktu malah mnjadi bahan candaan dan tawaan kita. Tapi apakah kita tidak punya trauma terhadap prosesi ini?
Jika benar kita tidak punya trauma, maka menurut saya sangatlah tidak layak jika kita melakukan kekerasan atau tekanan mental berlebih pada mahasiswa tingkat satu (selanjutnya disebut “maba”). Jika kita (meski saya tidak mau terlibat demikian) melakukannya dengan alasan tradisi, maka akan lebih konyol lagi. Apakah kebudayan yang tidak menunjukkan kecerdasan intelektual (cuma perpeloncoan tak bertujuan tak berdasar) akan kita kembangbiakkan dalam masyarakat kampus kita? jika mengatakan ini untuk membangun kader, maka kader apa sebenarnya yang kita bangun? Sejauh yang saya lihat, ospek hanya jadi sarana pendoktrinan satu fakultas lebih dari fakultas lain. Hal ini menimbulkan sebuah pola kelompok yang malah menjadi bibit awal dan fertilizer bagi SARA. Para maba akan dengan bodohnya (mereka tidak berani melawan karena seniornya sekejam Jepang masa penjajahan) menerima mentah-mentah hal ini seperti anak kecil yang baru belajar. Selanjutnya, seperti racun limbah Teluk Buyat, hal ini akan berakumilasi dalam dir mereka. Saat kembali ke masyarakat, ini menjadi sebuah nilai (yang sayangnya nilai buruk) dari sekian nilai yang mereka bawa dan akan mereka amalkan. Bayangkan saja, di kampus di’ajar’kan untuk menganngap kelompok aka. golongan (fakultas) sendiri lebih besar dan lebih hebat dari yang lain. Bukankah hal ini berbahaya? *satir mode off*
Lalu apakah hal ini harus dihilangkan? Tidak juga. Kenapa? Ada tujuan yang lumayan baik dari ospek ini. Dengan ospek akan tercipta keakraban antarmaba (jangan harapkan hubungan ini antara maba dan senior di tahun-tahun pertama, almost impossible). maba juga akan lebih mengenal lingkungannya dan nggak linglung lagi. Akan tetapi… apakah sesuatu yang baik apabila dikemas dalam kemasan buruk akan tetap bagus? Pastinya tidak. Membunuh tetap saja salah meskipun alasannya demi kebaikan. Demikian pula dengan mencuri. Demikian juga dengan ospek ini.
Lalu apakah yang harusnya dibuat? Ubah konsepnya! Dalam masyarakat profesional senioritas sudah terkikis, lho. Istilah senior selalu benar (bukti arogansi tak beralasan) sudah harus ditanggalkan. Sudah tidak tepat jika ingin dapat penghargaan dengan cara kekerasan atau pertunjukan kekuata atau membentak. Ini adalah bentuk penjajahan intelektual, lho. Ngapain berteriak menolak hal ini kalau kita sendiri melakukannya. Gunakan kebaikan dan ketegasan, mereka bukan anak 5 tahun yang harus dikerasi seakan tidak tahu apa-apa. Berikan alasan yang tepat, karena ini akan memicu daya kritis mereka (hal yang pastinya akan mendukung pergerakan mahasiswa). Berikan mereka kesempatan berpikir dan mencerna ideologi yang ditawarkan, dan memilih yang terbaik bagi mereka. Jangan sekali-kali diceokoki! Tak ada satu pun yng mau, bukan?
Jika kita lembut bukan berarti kita menjadi kehilangan wibawa (?!) di hadapan mereka. Malah kita bisa meraih hati mereka dengan mudah, lho. Jika mereka tampak tidak menghargai kita (sebagai mahasiswa), tegur mereka dengan tegas tanpa pukulan. Mereka bisa berpikir. Bawa mereka ke arah berpikir yang tepat. Buat mereka berada di posisi yang sama dengan kita, sehingga mereka merasakan sendiri jika seseorang melakukan hal yang sama kepada mereka.
Mungkin saja ide saya ini tampak seperti terlalu menghayal atau terlalu bodoh. Mungkin bakal banyak pembenaran yang akan segera menyerang ide saya ini. Itu hak tiap orang, saya tidak masalah. Toh saya telah menyerang kebiasaan ospek selama ini. Tapi semoga saja ada yang membaca ini dan menjadi terpikir. Sudah saatnya pembaharuan dilakukan. Dan harus dimulai dari sekarang, dari diri sendiri dulu. Terima kasih telah membaca tulisan saya ini. Semoga TUHAN beserta kita!
Selamat Hari Anak Nasional
Hari ini adalah hari anak nasional, ya. Selamat merayakan bagi yang merayakan
. Semoga anak-anak generasi sekarang tidak menjadi orang-orang tua yang terlalu abu-abu seperti yang banyak terdapat dalam masyarakat sekarang.
Saya membayangkan anak-anak cerdas dan kreatif Indonesia di masa depan akan menjadi apa. Dan saya memiliki dua bayangan. Yang satu anak-anak Indonesia akan memiliki kebebasan. Bebas dari utang negara, bebas untuk berekspresi, bebas berkreasi dan mencipta, bebas berpendapat. Mereka akan membangun bangsa ini dengan kritis dan bermoral. Tidak sekadar berteriak-teriak dan menghancurkan segala sesuatunya bila ada yang tidak sejalan dengan harapannya. Mereka akan saling mnghormati dan menghargai perbedaan di antara mereka. Toleransi dijunjung tinggi. Bangsa kita akan makmur dan maju (AMIN!!).
Bayangan kedua saya 180 derajat berbeda. Mereka akan terbelenggu. Terbelenggu utang yang bahkan mereka tidak tahu asalnya darimana, terbelenggu untuk berkreasi dan berekspresi, terbelenggu kebebasan berpendapatnya. Mereka akan selalu meributkan hal-hal yang tidak penting. bertengkar sesamanya. Selalu melawan sesamanya dan hanya menghargai sekelompoknya. Mereka akan saling menghancurkan dan penuh amarah. Bangsa akan penuh derita dan sengsara, dilanda putus asa dan diambang kehancuran (AMIT-AMIT JABANG BAYI!!!).
Yang mana akan menjadi kenyataan adalah tanggung jawab mereka yang lebih duluan hidup dari mereka. Mereka akan belajar apapun, karena dari sananya mereka begitu. Dan mereka akan belajar dari apa saja yang mereka lihat dan dengar. berita, sinetron, animasi, musik, film, semuanya. Apakah kita mau mereka menjadi semacam orang-orang yang suka bentrok seperti yang kita lihat di berita-berita saat ini? Atau menjadi orang jahat dan kejam seperti yang ditunjukkan dalam sinetron yang ditayangkan saat ini? Jika kita tidak ingin mereka begitu, sebaiknya sejak sekarang kita mengawasi dan mendidik mereka. Sebaiknya kita berhenti bertentangan, agar berita yang muncul bukan lagi seperti ayng sekarang kita lihat.
Anak-anak adalah selembar putih yang bersih dengan pola-pola yang mereka bawa sejak mereka dilahirkan. bagaimana mereka akan berwarna, bagaimana pola mereka nanti, sepenuhnya tanggung jawab kita yang hidup lebih lama dari mereka. Sekali lagi, selamat hari anak nasional !
Rame-rame Kampanye
Wah, sepertinya sudah hampir diadakan pesta akbar demokrasi di negeri kita ini. Di daerah bahkan sudah mulai sejak sekarang. Masing-masing peserta sudah menyebarkan undangan (baca:janji) kepada semua orang agar mereka mendatangi (baca:memilih) mereka. Tindakan yang dikenal sebagai kampanye (bahasa kasarnya: tebar pesona) ini sudah dilakukan bahkan sebelum mereka mendaftarkan diri sebagai peserta. Semangat sekali, ya. Padahal belum ada jaminan kalau mereka gol jadi peserta atau tidak. Entah mengapa wasit (baca KPU) tidak melihat ini sebagai keanehan. Mungkin karena aturan mainnya yang belum ada ? Hal itu mungkin saja.
Di kotaku saja, pemilihan kepala daerah aka. Pilkada baru akan dilakukan beberapa bulan lagi. Pemilihan calon peserta baru diadakan beberapa hari lalu. Tapi gembar gembornya… wah sudah dari tahun lalu! Poster bertebaran kemana-mana. Semua dengan tetek-bengeknya. Tapi apakah mereka berhasil masuk? Sepertinya tidak. Ada beberapa dari mereka yang saya lihat tidak masuk dalam dsaftar peserta. Kalau begitu bukannya sayang sekali, dana yang sudah dikeluarkan ?
Baru tadi pagi saya juga mendengarkan berita sembari mandi, sebuah cerita yang cukup menarik. Di salah satu wilayah negeri kita tercinta ini, para peserta berlomba-lomba memikat hati para pemilih. Mungkin hal itu sudah biasa, tapi yang ini agak tidak biasa. Menurut berita yang saya dengar dari Trans7 (sukses diambil Trans corp. dari KKG, makanya namanya berubah) itu, para calon menggunakan gadis-gadis cantik dalam kampanye. Ada yang mengundang mereka supaya mereka menyoraki mereka dan membentuk image bahwa mereka mendukung para wanita. Ada pula yang seperti menjual produk dari peserta. Tidak ada janji-janji. Para gadis hanya membagikan nasi bungkus saja. Seakan mereka sales girl yang sengaja dipakai agar pemilih (terutama pria) mengingat sang calon sebagai yang memberikan sesuatu yang ’segar’ bagi mereka.
Ada lagi yang lebih heboh. Sang calon mengundang biduanita cantik dalam kampanyenya. Mereka menaynyikan dangdut dengan segala embel-embelnya. Lho, embel-embel? Ya, segala hal yang mengikuti setiap acara dangdut : Jogetan. Masalahnya, masih dari berita tadi, yang berjoget di atas panggung (para biduanitanya), tidak tanggung-tanggung. Mereka berjoget dengan seronok. Wah! Saya jadi berpikir, apakah harus demikian dalam mencari perhatian ? Apa yang begitu lebih penting daripada visi dan misi? Pantas saja kalau negeri ini selalu tertipu pepesan kosong! Pemimpin dipilih dari kesan mereka yang ditangkap pemilih. Jika ditanyakan secara jujur pada pemilih, saya yakin kalau mereka memilih pemimpin karena apa yang mereka terima dari masa kampanyenya: joget yang kalau mau bilang erotis, pamer sales girl, nyanyi-nyanyi nggak penting dan semacamnya.
Apa ini yang mau jadi bagian dari hidup kita? Dan begitu sang calon naik, dan memperoleh gelar idamannya, sang calon pun akan segera meninggalkan pemilih mereka. Mereka telah berhasil menipu pemilih, karena rakyat tak ubahnya sumber suara bagi mereka. Mereka bukan individu, hanya sumber statistika agar mereka bisa menjadi pemenang. hanya alat permainan, yang bila selesai, bisa segera dibuang.
Musik bukanlah yang ingin didengar saat sedang rame-rame seperti sekarang ini. Yang penting adalah visi. Kalau memilih orang yang memberi pepesan kosong, JANGAN PERNAH BERANI MENYESALI PILIHAN ITU! Itu adalah pilihan kita (atau tepanya Anda sendiri), dfan sebagai orang dewasa yang bertangung jawab kita harus menerima pilihan itu dengan baik. Kalau yang dipilih ternyata tidak sesuai dengan harapan, maka jangan menyesal karena kita salah pilih, tapi MENYESALLAH KARENA KEBODOHAN KITA (ATAU MUNGKIN ANDA SENDIRI) MEMILIH MEREKA. Anda dan saya bisa menyesal bila yang naik ternyata orang yang tidak tepat, dan bukan pilihan kita. Karena sekarang sudah sering orang menyesali pilihan mereka. Saya menyesal pilih si inilah, saya menyesal pilih si itulah, dan banyak penyesalan lainnya. Mereka yang demikian tidak pernah berpikir dari awal kalau orang yang mereka pilih yang baik (aka. amanah) dalam menjalankan tugasnya atau hanyalah PENJUAL RACUN BERSELUBUNG SEBAGAI PENJUAL OBAT. Jadi, jangan salah pilih di pemilu nanti. Banyak pesetra yang hanya tebar pesona, seperti para marketer menjaring pembeli.
Semoga negeri ini nantinya semakin lebih maju dengan sumbangsih kita ini. Menjelang bulan Agustus ini, saya berharap demikian. Semoga TUHAN beserta kita sekalian! AMIN!!
Sebenarnya ini pengalaman yang sudah cukup lama. Dan mungkin sudah begitu basi di masyarakat kita ini. Saya melihat di depan mata sendiri polisi melakukan tindakan kungli terhadap pelaku pelanggaran lalu lintas. Pelakunya adalah supir dari mikrolet yang saya dan saudara saya tumpangi. Entah mengapa, polisi yang biasanya tidak begitu ketat di wilayah itu mengetatkan penjagaannya. Tempat mobil tumpangan saya memang bukan terminal (cuma terminal bayangan). Tapi biasanya polisi tidak ada di tempat itu. Tapi mungkin apes bagi supir itu, malam itu mobilnya kena tilang. Seperti yang saya bilang tadi, cerita ini sudah basi. Semua orang pasti tahu apa yang terjadi berikutnya. Ya, supir itu pergi ke pos polisi terdekat dan membayar polisi tersebut. Bagi mereka itu lebih baik karena mereka tidak mau repot dengan urusan pengadilan.
Ironis sekali kalau saya pikir. Kita menggembar-gemborkan pemberantasan korupsi, tapi malah pelaksana seperti polisi yang berada dekat dengan masyarakat malah melakukan tindakan demikian. Mereka menerima suap. Yang anehnya, masyarakat yang m,emberi suap agar tidak ditilang biasanya marah-marah seraya mengumpat petugas tersebut. Mereka yang melakukan pelanggaran terkadang salah juga, sih. Yang begitulah. Demi kelancaran usaha, SIM dan STNK ditebus dengan uang 20 ribuan. Apakah ini karena polisinya yang punya mental suap atau masyarakat yang berpikiran melanggar tidak ada masalahnya karena toh dapat diselesaikan dengan uang?
Saya tidak tahu pasti sejak kapan mental ini tetrbentuk. Di satu sisi, polisi nerimo saja kalau diberikan suap dan masalah dapat selesai dengan mudah. Alasannya lebih baik masalah “sepele” diselesaikan secara baik-baik dan kekeluargaan. Ini membuat tidak adanya efek jera pada masyarakat. Di sisi lain, masyarakat seperti mematuhi sebuah peraturan taktertulis yang kalau dibahasakan kira-kira begini: “Kalau melanggar di jalan dan di tahan, selesaikan saja dengan ‘baik-baik’ (baca:bayar saja polisinya!). Nggak usah ribut-ribut. Berapa, sih?”. Mungkin kira-kira begitu. Bangsa kita mungkinlah satu-satunya bangsa yang suak mngecilkan masalah seperti ini. Segalanya diselesaikan dengan ‘damai’ dan ‘kekeluargaan’. Meskipun seperti yang saya katakan tidak sedikit orang yang mengumpat polisi karena hal ini. Terkadang polisi di jalan juga dengan sengaja menilang seseorang tanpaalasan yang jelas, hanya demi mendapat uang. Aneh kalau untuk saya.
Polisi, sejak mereka masuk sampai dengan keluar dari institusi tersebut, tidak lepas dari tindak suap-suapan (kayak anak kecil disuap-suap
). Buak rahasia lagi (sudah terlalu lama jadi rahasia umum, jadinyabukan rahasia lagi) kalau mau masuk ke kepolisian hyarus punya dana besar, sekitar 40 jt lebih. Kalau saya, punya dana sebesar itu saya tidak akan gunakan sebagai suap. Lebih baik jadi modal usaha warnet. Lumayan daripada jadi uang haram. Tapi banyak orang yang melakukan ini karena di masyarakat kita polisi memiliki prestise sendiri di masyarakat. para orang tua akan bangga jika anak-anaknya jadi polisi. Coba dengarkan orang lain yang menanyakan pekerjaan anak orang lain. Kalau bekerja sebagai polisi betapa mereka berdecak kagum. Padahal sebenarnya apa polisi itu, sampai dikagumi secara berlebihan? Toh mereka HANYA POLISI (kalau anaknya bekerja sebagai ahli kimia seperti saya nanti (AMIN!!) mungkin decakan itu tidak akan terdengar
).
maff bagi para polisi. Tapi ini adalah suara saya yang kurang senang pada Anda sekalian. Satu lagi, ada kejadian macet yang lumayan parah di jalan poros utama yang menghubungkan pusat kota dengan perumahan di kota saya. yang aneh, tak satu pun polisi yang bertugas menentramkan macet tersebut. Sekali lagi aneh untuk saya.
Mungkin ada yang akan mengatakan saya agak naif atau apa, kok masalah begini dibahasakan. Tapi kalau untuk saya, masih lebih baik saya berbicara begini, daripada nantinya membayar suap pada polisi menjadi sebuah kelumrahan dalam masyarakat. Hal yang rancu, bukan? Dan bagi orang-orang lain yang menganggap polisi memiliki prestise, sebaiknya berpikir ulang. Polisi itu HANYALAH SEORANG APARAT BIASA.l Tidak lebih, tidak kurang. Jangan memaksakan diri kalau tidak mampu. Jangan membiarkan diri mengikuti sistem kacau ini kalau mampu masuk. Sekian uneg-uneg saya kali ini. Maaf kalau ada yang kurang berkenan. Peace, man
!
Solusi harga BBM
Kemarin baru saya baca dari Kontan, pemerintah di Korea sana menerapkan kebijakan tentang BBM yang berpihak pada rakyat. Kenaikan harga BBM yang tidak dapat dihindari ini sebenarnya dapat dihindari efek dominonya. Di Korea Selatan (kalau tidak salah), harga BBM untuk kendaraan umum dan yang berhubungan dengan masyarakat ditanggung (aka. disubsidi) sebesar 50% (kalo tidak salah) dari harga yang sebenarnya.
Menurut saya, yang demikian itu bisa dicontoh untuk negara kita tercinta ini. Yang namanya subsidi BBM tidak bagus kalau dihilangkan SECARA TOTAL! Kalau mau mengurangi anggaran, sebaiknya subsidinya diefisienkan. Lho, memangnya selama ini belum efisien? Mungkin ada yang bertanya demikian. Dan saya akan menjawab, YA! Selama ini, rakyat kecil dan rakyat besar (para pejabat, orang kaya dengan mobil baru segudang, knglomerat, etc.) disubsidi semua oleh negara. Hal ini mungkin tampak seperti sebuah pengamalan sila ke-5 Pancasila, “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Tapi kalau menurut saya, ini bukan sebuah keadilan sosial. Apakah adil bila seorang yang kaya disubsidi juga, sama seperti yang tidak mampu? Dan saat subsidi itu dicabut maka yang tidak mampu itu juga ikut mengalaminya? Padalah, ada tidak adanya subsidi tidak jadi masalah bagi yang mampu. Hal yang berbeda terjadi dengan yang tidak mampu.
Jika subsidi tidak diefisienkan (bukan dihapus) maka APBN akan kesulitan membayar hutang yang entah bagaimana muncul lagi. Kesalahan telah terjadi, nasi sudah jadi bubur, dan hutang sudah ada. Dan sepertinya sudah jadi tipikal Indonesia untuk memaafkan kesalahan tersebut dan maju terus sambil membayar hutang yang mestinya tidak pernah akan ada lagi ini. Langkah yang dilihat pemerintah seolah-olah bagaikan kuda yang hanya melihat satu arah: hapus yang tidak berguna (entah yang tidak berguna untuk siapa). Padahal hal itu akan menambah masalah yang harus ditanggung rakyatnya. Dan demi mengentengkan jalannya rencana ini, dilakukanlah propaganda yang kalau dirasa-rasa seperti propaganda Jepang di zaman penjajahan dulu: hal yang dilakukan ini demi kesejahteraan rakyat, yang mana dalam kasus BBM subsidinya akan dialihkan ke kesehatan dan pendidikan. Dan seperti halnya propaganda lain yang sebagian besar tidak bertujuan baik, kenyataan yang terjadi tidaklah seperti janjinya. Bahkan demi mencegah masalah lebih luas, subsidi itu dibagikan langsung ke masyarakat dalam bentuk BLT, bagaikan uang yang ditabur dari langit, tidak tersalurkan dengan baik. Saya jadi ingat perkataan Pak JK yang terhormat bahwa siapa pun yang menghalangi penghapusan subsidi akan menghalangi rakyat kecil mendapat rejekinya. Kalau mau ditilik lagi, maka BLT tidaklah cukup untuk kehidupan sehari-hari, karena efek domino membesarkan segalanya. Malahan akan membuat orang manja dan berharap terus, padahal dana ini tidak akan terus-terusan mengucur. kalau mau mengharapkan dana ini bisa jadi modal untuk usaha bagi yang kurang mampu, coba katakan itu dulu pada orang yang sudah tidak makan layak selama 3 hari! Mana yang mereka lebih pilih untuk didahulukan: Makan atau Berusaha? Logika orang yang kelaparan yang sudah menjadi insting tiap makhluk hidup di dunia ini adalah memilih makan di atas segalannya. Jadi apakah hal yang dikatakan sebagai penyelamat bangsa dari kesulitan karena kenaikan harga BBM dunia ini masih dapat dianggap tepat?
Kembali ke Korea, di sana yang mendapatkan subsidi hanyalah yang memang membutuhkan. Yang mendapat subsidi bukan produsen, tetapi distributor (yang dalam beberapa kondisi bisa menjadi faktor kenaikan harga hingga 50% lebih) dan angkutan umum yang dampaknya sangat terasa di dalam masyarakat. Mungkin bangsa kita tercinta ini dan para pejabat pemerintah kita yang terhormat dapat mempertimbangkan hal ini. Jika dibuat sebuah sistem yang membuat angkutan umum dan angkutan pengangkut barang/logistikdapat memperoleh potongan harga dari tarif normal di setiap SPBU, maka efek domino bisa ditekan hingga minimal. Jika mungkin sistem itu berupa kartu kontrol yang hanya dimiliki oleh angkutan-angkutan berpelat kuning atau truk-truk yang khusus mengantar logistik antarkota atau antarpulau, persis seperti kartu askeskin. Pada tiap akhir bulan, pihak SPBU dapat memberikan data-data berapa banyak SPBU-nya memberikan potongan kepada pemilik pelat kuning atau angkutan logistik ke pemerintah untuk mendapatkan jumlah subsidi untuk mereka sebagai gantinya. Dengan demikian, sistem ini akan lebih bisa berdampak langsung ke seluruh masyarakat, ketimbang BLT atau peningkatan pelayanan yang sampai sekarang belum ada gaungnya itu.
Sebagai mahasiswa, mungkin saya tidak pernah menyuarakan aspirasi saya ke jalanan. Saya pun tidak terlalu menyukai cara demikian yang pada akhirnya tidak menarik simpati masyarakat yang sudah terlalu penat akan keadaan ini dan terpaksa untuk terus berlari dalam hidupnya demi tetap bertahan. Yang saya lakukan hanyalah memberikan tulisan dalam blog ini dan berharap ada pihak yang dapat sepikiran dengan saya dan menanggapi tulisan ini secara nyata, karena saya tidak memiliki kapabilitas untuk itu. Yang saya berikan hanyalah sebuah solusi, yang dapat menyenangkan kedua belah pihak. Sebuah solusi yang bukan mustahil jika ingin dilaksanakan. Ini sebagai tanggung jawab saya juga sebagai mahasiswa yang katanya agen perubahan. Semoga niat ini bisa kesampaian.
Terima kasih!
Celotehan
Halo! Kali ini saya membuat blog di WordPress ini dalam bahasa Indonesia. Mengenai nama blog ini, bisa dikatakan adalah hasil karangan sendiri, kalau di bahasa Jepun sana saya nggak tau ada betul atau tidak. “Kagaku” berarti kimia dan “sha” bisa diartikan sebagai pengguna atau pelaku . Yup, kira-kira artinya begitu ^^; Saya adalah seorang mahasiswa kimia dari sebuah kampus di Indonesia yang katanya cukup terkenal (bukan di Jawa). Makanya namanya seperti itu
. Selain itu saya juga gemar dengan kebudayyan jepang. Mungkin kata orang Japan Wannabe, tapi saya menolak dengan tegas istilah seperti itu, karena meski menyukai Jepang dan terkadang agak kurang suka negeri sendiri( terutama segala kebusukan dan masalahnya), saya tetap mengakui diri sebagai Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila dan mengakui UUD 1945. Ada sebuah artikel di sebuah website yang mungkin akan saya tunjukkan nanti (sekarang belum ada sempat buat me-review) yang mendiskreditkan pecinta kebudayaan Jepang, entah dengan maksud apa. Tapi yang pasti hal tersebut tidaklah benar, karena (meskipun ada) sebagian besar orang Indonesia yang gemar Jepang (sebut saja J-Lovers) tetap mencintai negeri sendiri dan bangga atas negara mereka ini. Orang-orang demikian saya anngap sebagai orang yang berpikiran terbuka. Bahkan ada beberapa dari mereka yang memiliki pemikiran yang dapat memajukan bangsa ini dengan mengharapkan semoga bangsa ini bisa semaju di Jepang sana.
Celotehan ini memang hanya sekadar celotehan. Mungkin akan ada lagi celotehan-celotehan lainnya. Mohon jangan diambil hati kalau merasa tersinggung. Toh ini cuma celotehan. Berikut ini ada beberapa blog saya yang lain di Blogger:
kalau ada waktu silakan mampir
.
Terima kasih telah berkunjung!