Ospek telah tiba, Ospek telah tiba, hore (?!)..hore..hore(?!?!)
Well, intu adalah potongan lagu Libur Telah Tiba punya salah satu penyanyi cilik kita dulu, yang entah mengapa tiba-tiba saya lupa namanya. Ospek, siapa yang tidak mengenal nama ini. Apalagi mahasiswa tingkat satu di seluruh Indonesia. Saya tidak tahu apakah ada universitas yang himpunan mahasiswanya tidak mengadakan ini.
Judul ini sebenarnya sebuah satir terhadap ospek ini *satir mode on*. Coba kita jujur, terutama yang sudah tua-tua di universitas (yang nyaris jadi dedengkot kampus juga termasuk). Apakah ospek adalah pengalaman yang mnearik bagi kita dulu? Pasti jawabannya tidak (meski mungkin bakalan ada yang mengatakan ya). Tapi pengalaman horor ini seiring waktu malah mnjadi bahan candaan dan tawaan kita. Tapi apakah kita tidak punya trauma terhadap prosesi ini?
Jika benar kita tidak punya trauma, maka menurut saya sangatlah tidak layak jika kita melakukan kekerasan atau tekanan mental berlebih pada mahasiswa tingkat satu (selanjutnya disebut “maba”). Jika kita (meski saya tidak mau terlibat demikian) melakukannya dengan alasan tradisi, maka akan lebih konyol lagi. Apakah kebudayan yang tidak menunjukkan kecerdasan intelektual (cuma perpeloncoan tak bertujuan tak berdasar) akan kita kembangbiakkan dalam masyarakat kampus kita? jika mengatakan ini untuk membangun kader, maka kader apa sebenarnya yang kita bangun? Sejauh yang saya lihat, ospek hanya jadi sarana pendoktrinan satu fakultas lebih dari fakultas lain. Hal ini menimbulkan sebuah pola kelompok yang malah menjadi bibit awal dan fertilizer bagi SARA. Para maba akan dengan bodohnya (mereka tidak berani melawan karena seniornya sekejam Jepang masa penjajahan) menerima mentah-mentah hal ini seperti anak kecil yang baru belajar. Selanjutnya, seperti racun limbah Teluk Buyat, hal ini akan berakumilasi dalam dir mereka. Saat kembali ke masyarakat, ini menjadi sebuah nilai (yang sayangnya nilai buruk) dari sekian nilai yang mereka bawa dan akan mereka amalkan. Bayangkan saja, di kampus di’ajar’kan untuk menganngap kelompok aka. golongan (fakultas) sendiri lebih besar dan lebih hebat dari yang lain. Bukankah hal ini berbahaya? *satir mode off*
Lalu apakah hal ini harus dihilangkan? Tidak juga. Kenapa? Ada tujuan yang lumayan baik dari ospek ini. Dengan ospek akan tercipta keakraban antarmaba (jangan harapkan hubungan ini antara maba dan senior di tahun-tahun pertama, almost impossible). maba juga akan lebih mengenal lingkungannya dan nggak linglung lagi. Akan tetapi… apakah sesuatu yang baik apabila dikemas dalam kemasan buruk akan tetap bagus? Pastinya tidak. Membunuh tetap saja salah meskipun alasannya demi kebaikan. Demikian pula dengan mencuri. Demikian juga dengan ospek ini.
Lalu apakah yang harusnya dibuat? Ubah konsepnya! Dalam masyarakat profesional senioritas sudah terkikis, lho. Istilah senior selalu benar (bukti arogansi tak beralasan) sudah harus ditanggalkan. Sudah tidak tepat jika ingin dapat penghargaan dengan cara kekerasan atau pertunjukan kekuata atau membentak. Ini adalah bentuk penjajahan intelektual, lho. Ngapain berteriak menolak hal ini kalau kita sendiri melakukannya. Gunakan kebaikan dan ketegasan, mereka bukan anak 5 tahun yang harus dikerasi seakan tidak tahu apa-apa. Berikan alasan yang tepat, karena ini akan memicu daya kritis mereka (hal yang pastinya akan mendukung pergerakan mahasiswa). Berikan mereka kesempatan berpikir dan mencerna ideologi yang ditawarkan, dan memilih yang terbaik bagi mereka. Jangan sekali-kali diceokoki! Tak ada satu pun yng mau, bukan?
Jika kita lembut bukan berarti kita menjadi kehilangan wibawa (?!) di hadapan mereka. Malah kita bisa meraih hati mereka dengan mudah, lho. Jika mereka tampak tidak menghargai kita (sebagai mahasiswa), tegur mereka dengan tegas tanpa pukulan. Mereka bisa berpikir. Bawa mereka ke arah berpikir yang tepat. Buat mereka berada di posisi yang sama dengan kita, sehingga mereka merasakan sendiri jika seseorang melakukan hal yang sama kepada mereka.
Mungkin saja ide saya ini tampak seperti terlalu menghayal atau terlalu bodoh. Mungkin bakal banyak pembenaran yang akan segera menyerang ide saya ini. Itu hak tiap orang, saya tidak masalah. Toh saya telah menyerang kebiasaan ospek selama ini. Tapi semoga saja ada yang membaca ini dan menjadi terpikir. Sudah saatnya pembaharuan dilakukan. Dan harus dimulai dari sekarang, dari diri sendiri dulu. Terima kasih telah membaca tulisan saya ini. Semoga TUHAN beserta kita!
Sekadar berbagi info saja
Saya merasa saya selama ini menulis di blog ini dengan terlalu “pedas” (meski tidak sepedas lainnya, malah lebih terasa sebagai cacian semata). Sesekali say juga ingin berbagi hal lain di dalam blog ini. Seperti yang akan saya lakukan saat ini.
Pada hari ini ini saya merasa gembira karena program yang saya ikuti di www.projectwonderful.com akhirnya ada hasilnya juga. Sudah ada seorang bidder yang menyewa tempatnya. Ini adalah penantian berminggu-minggu yang akhirnya terkabulkan! Saya berharap suatu saat nanti program yang saya ikuti ini dapat membantu perekonomian keluarga (minimal dengan menjadi uang saku selama kuliah).
Selain itu, saya melakukan pengujian blogger’s blog saya dalam upaya menjaga pageranknya yang hanya satu itu. Saya menggunakan tambahan di bagian html dari ink yang saya terakan dalam tiap postingan. Tambahan itu adalah sepenggal syntax nofollow, tepatnya rel=”nofollow“. Mungkin ini adalah hal yang sudah basi bagi orang lain. Tapi bagi saya ini adalah pengalaman baru, dan sangat menyenangkan karena saya tidak mencari di Search Engine demi cara ini. Saya pun belum tahu pasti pengaruhnya dengan PR saya. Saya hanya puas saja dengan percobaan ini.
Itulah hal-hal yang ingin saya bagi di sini. Maaf kalau terasa seperti curhat. Ini sekadar pelepasa ide saja. Terima kasih banyk bagi yang telah berkenan berkunjung dan membaca tulisan ini.
Sampai jumpa lagi di lain waktu.