kagaku’s blog

Just another WordPress.com weblog

Selamat Hari Anak Nasional

       Hari ini adalah hari anak nasional, ya. Selamat merayakan bagi yang merayakan :D . Semoga anak-anak generasi sekarang tidak menjadi orang-orang tua yang terlalu abu-abu seperti yang banyak terdapat dalam masyarakat sekarang.

       Saya membayangkan anak-anak cerdas dan kreatif Indonesia di masa depan akan menjadi apa. Dan saya memiliki dua bayangan. Yang satu anak-anak Indonesia akan memiliki kebebasan. Bebas dari utang negara, bebas untuk berekspresi, bebas berkreasi dan mencipta, bebas berpendapat. Mereka akan membangun bangsa ini dengan kritis dan bermoral. Tidak sekadar berteriak-teriak dan menghancurkan segala sesuatunya bila ada yang tidak sejalan dengan harapannya. Mereka akan saling mnghormati dan menghargai perbedaan di antara mereka. Toleransi dijunjung tinggi. Bangsa kita akan makmur dan maju (AMIN!!).

       Bayangan kedua saya 180 derajat berbeda. Mereka akan terbelenggu. Terbelenggu utang yang bahkan mereka tidak tahu asalnya darimana, terbelenggu untuk berkreasi dan berekspresi, terbelenggu kebebasan berpendapatnya. Mereka akan selalu meributkan hal-hal yang tidak penting. bertengkar sesamanya. Selalu melawan sesamanya dan hanya menghargai sekelompoknya. Mereka akan saling menghancurkan dan penuh amarah. Bangsa akan penuh derita dan sengsara, dilanda putus asa dan diambang kehancuran (AMIT-AMIT JABANG BAYI!!!).

       Yang mana akan menjadi kenyataan adalah tanggung jawab mereka yang lebih duluan hidup dari mereka. Mereka akan belajar apapun, karena dari sananya mereka begitu. Dan mereka akan belajar dari apa saja yang mereka lihat dan dengar. berita, sinetron, animasi, musik, film, semuanya. Apakah kita mau mereka menjadi semacam orang-orang yang suka bentrok seperti yang kita lihat di berita-berita saat ini? Atau menjadi orang jahat dan kejam seperti yang ditunjukkan dalam sinetron yang ditayangkan saat ini? Jika kita tidak ingin mereka begitu, sebaiknya sejak sekarang kita mengawasi dan mendidik mereka. Sebaiknya kita berhenti bertentangan, agar berita yang muncul bukan lagi seperti ayng sekarang kita lihat.

       Anak-anak adalah selembar putih yang bersih dengan pola-pola yang mereka bawa sejak mereka dilahirkan. bagaimana mereka akan berwarna, bagaimana pola mereka nanti, sepenuhnya tanggung jawab kita yang hidup lebih lama dari mereka. Sekali lagi, selamat hari anak nasional !

Juli 23, 2008 Ditulis oleh kagaku | HArapan saya, Opini saya | , , , , | Belum Ada Tanggapan

Rame-rame Kampanye

       Wah, sepertinya sudah hampir diadakan pesta akbar demokrasi di negeri kita ini. Di daerah bahkan sudah mulai sejak sekarang. Masing-masing peserta sudah menyebarkan undangan (baca:janji) kepada semua orang agar mereka mendatangi (baca:memilih) mereka. Tindakan yang dikenal sebagai kampanye (bahasa kasarnya: tebar pesona) ini sudah dilakukan bahkan sebelum mereka mendaftarkan diri sebagai peserta. Semangat sekali, ya. Padahal belum ada jaminan kalau mereka gol jadi peserta atau tidak. Entah mengapa wasit (baca KPU) tidak melihat ini sebagai keanehan. Mungkin karena aturan mainnya yang belum ada ? Hal itu mungkin saja.

       Di kotaku saja, pemilihan kepala daerah aka. Pilkada baru akan dilakukan beberapa bulan lagi. Pemilihan calon peserta baru diadakan beberapa hari lalu. Tapi gembar gembornya… wah sudah dari tahun lalu! Poster bertebaran kemana-mana. Semua dengan tetek-bengeknya. Tapi apakah mereka berhasil masuk? Sepertinya tidak. Ada beberapa dari mereka yang saya lihat tidak masuk dalam dsaftar peserta. Kalau begitu bukannya sayang sekali, dana yang sudah dikeluarkan ?

       Baru tadi pagi saya juga mendengarkan berita sembari mandi, sebuah cerita yang cukup menarik. Di salah satu wilayah negeri kita tercinta ini, para peserta berlomba-lomba memikat hati para pemilih. Mungkin hal itu sudah biasa, tapi yang ini agak tidak biasa. Menurut berita yang saya dengar dari Trans7 (sukses diambil Trans corp. dari KKG, makanya namanya berubah) itu, para calon menggunakan gadis-gadis cantik dalam kampanye. Ada yang mengundang mereka supaya mereka menyoraki mereka dan membentuk image bahwa mereka mendukung para wanita. Ada pula yang seperti menjual produk dari peserta. Tidak ada janji-janji. Para gadis hanya membagikan nasi bungkus saja. Seakan mereka sales girl yang sengaja dipakai agar pemilih (terutama pria) mengingat sang calon sebagai yang memberikan sesuatu yang ’segar’ bagi mereka.

       Ada lagi yang lebih heboh. Sang calon mengundang biduanita cantik dalam kampanyenya. Mereka menaynyikan dangdut dengan segala embel-embelnya. Lho, embel-embel? Ya, segala hal yang mengikuti setiap acara dangdut : Jogetan. Masalahnya, masih dari berita tadi, yang berjoget di atas panggung (para biduanitanya), tidak tanggung-tanggung. Mereka berjoget dengan seronok. Wah! Saya jadi berpikir, apakah harus demikian dalam mencari perhatian ? Apa yang begitu lebih penting daripada visi dan misi? Pantas saja kalau negeri ini selalu tertipu pepesan kosong! Pemimpin dipilih dari kesan mereka yang ditangkap pemilih. Jika ditanyakan secara jujur pada pemilih, saya yakin kalau mereka memilih pemimpin karena apa yang mereka terima dari masa kampanyenya: joget yang kalau mau bilang erotis, pamer sales girl, nyanyi-nyanyi nggak penting dan semacamnya.

       Apa ini yang mau jadi bagian dari hidup kita? Dan begitu sang calon naik, dan memperoleh gelar idamannya, sang calon pun akan segera meninggalkan pemilih mereka. Mereka telah berhasil menipu pemilih, karena rakyat tak ubahnya sumber suara bagi mereka. Mereka bukan individu, hanya sumber statistika agar mereka bisa menjadi pemenang. hanya alat permainan, yang bila selesai, bisa segera dibuang.

       Musik bukanlah yang ingin didengar saat sedang rame-rame seperti sekarang ini. Yang penting adalah visi. Kalau memilih orang yang memberi pepesan kosong, JANGAN PERNAH BERANI MENYESALI PILIHAN ITU! Itu adalah pilihan kita (atau tepanya Anda sendiri), dfan sebagai orang dewasa yang bertangung jawab kita harus menerima pilihan itu dengan baik. Kalau yang dipilih ternyata tidak sesuai dengan harapan, maka jangan menyesal karena kita salah pilih, tapi MENYESALLAH KARENA KEBODOHAN KITA (ATAU MUNGKIN ANDA SENDIRI) MEMILIH MEREKA. Anda dan saya bisa menyesal bila yang naik ternyata orang yang tidak tepat, dan bukan pilihan kita. Karena sekarang sudah sering orang menyesali pilihan mereka. Saya menyesal pilih si inilah, saya menyesal pilih si itulah, dan banyak penyesalan lainnya. Mereka yang demikian tidak pernah berpikir dari awal kalau orang yang mereka pilih yang baik (aka. amanah) dalam menjalankan tugasnya atau hanyalah PENJUAL RACUN BERSELUBUNG SEBAGAI PENJUAL OBAT. Jadi, jangan salah pilih di pemilu nanti. Banyak pesetra yang hanya tebar pesona, seperti para marketer menjaring pembeli.

       Semoga negeri ini nantinya semakin lebih maju dengan sumbangsih kita ini. Menjelang bulan Agustus ini, saya berharap demikian. Semoga TUHAN beserta kita sekalian! AMIN!!

Juli 15, 2008 Ditulis oleh kagaku | Opini saya | , , , | 1 Komentar

       Sebenarnya ini pengalaman yang sudah cukup lama. Dan mungkin sudah begitu basi di masyarakat kita ini. Saya melihat di depan mata sendiri polisi melakukan tindakan kungli terhadap pelaku pelanggaran lalu lintas. Pelakunya adalah supir dari mikrolet yang saya dan saudara saya tumpangi. Entah mengapa, polisi yang biasanya tidak begitu ketat di wilayah itu mengetatkan penjagaannya. Tempat mobil tumpangan saya memang bukan terminal (cuma terminal bayangan). Tapi biasanya polisi tidak ada di tempat itu. Tapi mungkin apes bagi supir itu, malam itu mobilnya kena tilang. Seperti yang saya bilang tadi, cerita ini sudah basi. Semua orang pasti tahu apa yang terjadi berikutnya. Ya, supir itu pergi ke pos polisi terdekat dan membayar polisi tersebut. Bagi mereka itu lebih baik karena mereka tidak mau repot dengan urusan pengadilan.

       Ironis sekali kalau saya pikir. Kita menggembar-gemborkan pemberantasan korupsi, tapi malah pelaksana seperti polisi yang berada dekat dengan masyarakat malah melakukan tindakan demikian. Mereka menerima suap. Yang anehnya, masyarakat yang m,emberi suap agar tidak ditilang biasanya marah-marah seraya mengumpat petugas tersebut. Mereka yang melakukan pelanggaran terkadang salah juga, sih. Yang begitulah. Demi kelancaran usaha, SIM dan STNK ditebus dengan uang 20 ribuan. Apakah ini karena polisinya yang punya mental suap atau masyarakat yang berpikiran melanggar tidak ada masalahnya karena toh dapat diselesaikan dengan uang?

       Saya tidak tahu pasti sejak kapan mental ini tetrbentuk. Di satu sisi, polisi nerimo saja kalau diberikan suap dan masalah dapat selesai dengan mudah. Alasannya lebih baik masalah “sepele” diselesaikan secara baik-baik dan kekeluargaan. Ini membuat tidak adanya efek jera pada masyarakat. Di sisi lain, masyarakat seperti mematuhi sebuah peraturan taktertulis yang kalau dibahasakan kira-kira begini: “Kalau melanggar di jalan dan di tahan, selesaikan saja dengan ‘baik-baik’ (baca:bayar saja polisinya!). Nggak usah ribut-ribut. Berapa, sih?”. Mungkin kira-kira begitu.  Bangsa kita mungkinlah satu-satunya bangsa yang suak mngecilkan masalah seperti ini. Segalanya diselesaikan dengan ‘damai’ dan ‘kekeluargaan’. Meskipun seperti yang saya katakan tidak sedikit orang yang mengumpat polisi karena hal ini. Terkadang polisi di jalan juga dengan sengaja menilang seseorang tanpaalasan yang jelas, hanya demi mendapat uang. Aneh kalau untuk saya.

       Polisi, sejak mereka masuk sampai dengan keluar dari institusi tersebut, tidak lepas dari tindak suap-suapan (kayak anak kecil disuap-suap :D ). Buak rahasia lagi (sudah terlalu lama jadi rahasia umum, jadinyabukan rahasia lagi) kalau mau masuk ke kepolisian hyarus punya dana besar, sekitar 40 jt lebih. Kalau saya, punya dana sebesar itu saya tidak akan gunakan sebagai suap. Lebih baik jadi modal usaha warnet. Lumayan daripada jadi uang haram. Tapi banyak orang yang melakukan ini karena di masyarakat kita polisi memiliki prestise sendiri di masyarakat. para orang tua akan bangga jika anak-anaknya jadi polisi. Coba dengarkan orang lain yang menanyakan pekerjaan anak orang lain. Kalau bekerja sebagai polisi betapa mereka berdecak kagum. Padahal sebenarnya apa polisi itu, sampai dikagumi secara berlebihan? Toh mereka HANYA POLISI (kalau anaknya bekerja sebagai ahli kimia seperti saya nanti (AMIN!!) mungkin decakan itu tidak akan terdengar :) ).

       maff bagi para polisi. Tapi ini adalah suara saya yang kurang senang pada Anda sekalian. Satu lagi, ada kejadian macet yang lumayan parah di jalan poros utama yang menghubungkan pusat kota dengan perumahan di kota saya. yang aneh, tak satu pun polisi yang bertugas menentramkan macet tersebut. Sekali lagi aneh untuk saya.

       Mungkin ada yang akan mengatakan saya agak naif atau apa, kok masalah begini dibahasakan. Tapi kalau untuk saya, masih lebih baik saya berbicara begini, daripada nantinya membayar suap pada polisi menjadi sebuah kelumrahan dalam masyarakat. Hal yang rancu, bukan? Dan bagi orang-orang lain yang menganggap polisi memiliki prestise, sebaiknya berpikir ulang. Polisi itu HANYALAH SEORANG APARAT BIASA.l Tidak lebih, tidak kurang. Jangan memaksakan diri kalau tidak mampu. Jangan membiarkan diri mengikuti sistem kacau ini kalau mampu masuk. Sekian uneg-uneg saya kali ini. Maaf kalau ada yang kurang berkenan. Peace, man :D !

Juli 7, 2008 Ditulis oleh kagaku | Opini saya | , | Belum Ada Tanggapan